Artikel

Kematian Massal Burung Kuntul Kerbau di Hutan Mangrove Baros

Mar

19

Kematian Massal Burung Kuntul Kerbau di Hutan Mangrove Baros

Kematian Massal Burung Kuntul Kerbau di Hutan Mangrove Baros

Sekitar akhir bulan Februari 2021 yang lalu, dilansir dari halaman facebook Hutan Mangrove Baros (22/2-2021), dilaporkan telah terjadi kematian masal burung kuntul di kawasan Hutan Mangrove Baros. Menurut penyelidikan (laboratorium) yang dilakukan oleh BKSDA Yogyakarta bekerjasama dengan Balai Besar Veteriner Wates (dilansir dari halaman facebook Hutan Mangrove Baros, 14/3-2021), ditemukan bahwa burung-burung kuntul yang mati negatif PCR flu burung, namun mengalami dehidrasi berat dan terinfeksi oleh cacing jenis Cosmocephalus dan Echinostoma. Kematian massal burung kuntul juga dilaporkan terjadi di habitat kuntul di Ganjuran, Bantul. Namun, untuk kematian massal burung kuntul di Ganjuran belum dilakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematiannya. Burung kuntul yang ada di Hutan Mangrove Baros diidentifikasi sebagai kuntul kerbau (Bubulcus ibis).



Gambar 1. Burung-burung kuntul yang mati di Hutan Mangrove Baros

(Sumber: facebook Hutan Mangrove Baros)


Secara umum, kuntul adalah sebutan untuk burung dari keluarga Ardeidae. Dalam keluarga Ardeidae sendiri terdapat kurang lebih 14 genus, beberapa diantaranya yaitu Ardea, Egretta, Ardeola dan Bubulcus, dengan puluhan jumlah spesies yang menjadi anggotanya. Beberapa contoh spesies burung yang termasuk kuntul yaitu, Casmerodius albus (kuntul besar), Egretta garzetta (kuntul kecil), Bubulcus ibis (kuntul kerbau) dan Ardeola speciosa (blekok sawah).

            Kuntul kerbau memiliki klasifikasi taksonomi sebagai berikut:

 

Klasifikasi Taksonomi

Kingdom          : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Aves

Ordo                : Pelicaniformes

Famili              : Ardeidae

Genus             : Bubulcus

Spesies           : Bubulcus ibis (Linnaeus, 1758)

 

Ciri-Ciri Morfologi

Burung kuntul kecil merupakan jenis terkecil dari kuntul-kuntulan, dengan panjang tubuh sekitar 48-53 cm. Rentangan kedua sayapnya mencapai 88-96 cm. Berat tubuhnya sekitar 270-512 gram.

Bentuk tubuhnya lebih ramping dari blekok sawah (Ardeola speciosa) tetapi tidak seramping kuntul-kuntul yang lebih besar. Seluruh tubuhnya berwarna putih. Tetapi pada musim kawin, bulu-bulu pada kepala, leher dan punggungnya berwarna kuning jingga. Paruhnya berwarna kuning dan lebih tebal daripada jenis kuntul lain.

Letak mata kuntul kerbau memungkinkannya memiliki pandangan binocular selama mencari makan. Studi-studi fisiologis menduga bahwa spesies ini mungkin memiliki kemampuan melakukan aktivitas crepuscular atau nocturnal. Karena beradaptasi dengan daratan dalam mencari makan, kuntul kerbau kehilangan kemampuan yang dimiliki saudara-saudaranya sesama burung air untuk secara tepat mengenali refraksi cahaya melalui air.

 

Habitat dan Pakan

Burung kuntul kerbau umumnya berhabitat (bersarang untuk bereproduksi) di lahan basah, seperti di pantai, terumbu karang atau hutan mangrove. Sarang dibangun di pohon-pohon dengan ketinggian lebih dari 20 m untuk keamanan. Sarangnya biasanya dihuni secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, dengan sarang saling bersentuhan satu sama lain. Kuntul kerbau bereproduksi sepanjang tahun di daerah tropis. Perilaku bersarangnya berkaitan dengan curah hujan.

Kuntul kerbau merupakan burung migran. Burung ini bermigrasi berkaitan dengan sumber pakan. Dalam mencari pakan, kuntul bisa mencari lokasi yang jauh dari habitatnya di pantai. Bubulcus ibis tidak mempunyai preferensi ekosistem dalam mencari pakan. Burung ini dapat ditemukan di seluruh dunia dengan cuaca, tapak, ekosistem dan lingkungan yang berbeda-beda. Namun menurut Elfidasari (2006) satwa ini biasanya mencari makan di daerah yang kering dan terbuka atau padang rumput atau lahan olahan dengan ketinggian air rendah. Daerah semacam ini biasanya berada jauh dari laut. 

Ketika kesulitan mencari mangsa, jenis burung ini akan cenderung mengikuti ternak yang merumput, misalnya kerbau atau sapi, untuk menangkap mangsa mereka. Kuntul kerbau memangsa lalat atau kutu yang ada pada kerbau atau sapi. Juga menyukai serangga dan binatang kecil lain yang banyak ditemukan di tempat kerbau dan sapi merumput sebagai pakannya. Beberapa jenis serangga dan binatang kecil yang menjadi mangsa satwa ini yaitu belalang, kumbang, lepidoptera, hemiptera, capung, lipan, laba-laba, krustacea, katak, kecebong, ikan, kadal, burung-burung kecil dan binatang pengerat (misalnya tikus).  

Pemilihan lokasi mencari pakan pada kuntul pada umumnya dipengaruhi oleh ketinggian air lokasi, panjang kaki atau ukuran tubuh burung dan ketersediaan jenis pakan yang disukai di lokasi. Jenis burung ini terbang secara berombongan ketika mencari pakan, dengan populasi yang dapat mencapai ribuan jika ketersediaan pakan melimpah. Perilaku makannya termasuk diurnal, yaitu aktif mencari makan pada siang hari.

 

Perlindungan dan Ancaman

Menurut IUCN Redlist, Bubulcus ibis berstatus Least Concern atau Resiko Rendah, dengan kecenderungan populasi yang meningkat Menurut PP No. 7 tahun 1999, satwa ini termasuk dalam daftar spesies yang dilindungi. Namun, selama ini spesies ini belum termasuk ke dalam daftar prioritas konservasi spesies.

Ancaman bagi populasi burung kuntul kerbau biasanya berasal dari gangguan langsung manusia, terutama bagi koloni burung yang bermigrasi ke area pemukiman. Pada saat bereproduksi, satwa ini terancam oleh adanya degradasi lahan basah yang menjadi lokasi sarangnya. Juga kadang-kadang terganggu oleh pemanfaatan sumber air untuk irigasi atau listrik. Ketik mencari pakan di persawahan atau areal pertanian lainnya, kuntul kerbau juga dapat terancam oleh keracunan pestisida atau bahan kimia lain.

Kasus kematian masal burung kuntul kerbau yang terjadi di Hutan Mangrove Baros merupakan hal yang baru terjadi (belum pernah terjadi sebelumnya) sehingga masih diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengatahui penyebab dan penanganannya. Hasil penyelidikan sementara yang dilakukan oleh BKSDA Yogyakarta dan Balai Besar Veteriner Wates, menyebutkan adanya infeksi cacing Cosmocephalus dan Echinostoma sebagai penyebab kematian burung.

Cacing Cosmocephalus membutuhkan ikan sebagai hospes (inang) untuk berkembang menjadi cacing dewasa. Dengan demikin, diperkirakan infeksi cacing jenis ini pada burung kuntul berasal dari perairan. Gejala infeksi cacing Cosmocephalus pada burung belum banyak diketahui, meskipun infeksi cacing jenis ini pernah ditemukan pada Bubulcus ibis di Ujung Pangkah, Gresik (Rachmaningtyas, 2018).

Sedangkan cacing Echinostoma spp. merupakan cacing trematoda penyebab echinostomiasis. Echinostoma merupakan trematoda usus yang hospes atau inangnya adalah berbagai jenis burung dan mamalia, termasuk manusia. Echinostomiasis dapat menimbulkan gejala epigastric berat, atau nyeri perut yang disertai diare, mudah lelah dan malnutrisi. Infeksi berat cacing jenis ini juga pernah dilaporkan menyebabkan kematian pada manusia di India karena perforasi usus, malnutrisi dan anemi. Dengan demikian, infeksi cacing Echinostomatermasuk zoonosis, yaitu infeksi yang dapat menular dari hewan atau satwa kepada manusia.

Daur hidup cacing Echinostoma adalah sebagai berikut: telur cacing (dalam feses manusia, burung, anjing, tikus dan ikan) menetas dalam air sebagai mirasidium kemudian masuk ke hospes 1 (keong kecil dari genus Anisus, Gyraulus, Lymnaea) sebagai sporokista yang berkembang menjadi redia dan berkembang lagi menjadi serkaria, kemudian masuk ke hospes 2 (keong besar dari genus Vivipara, Bellamya, Pila, Corbicula) sebagai metaserkaria yang merupakan bentuk infektif cacing. Infeksi terjadi apabila ada konsumsi hospes 2 dalam keadaan kurang matang atau mentah.

 


Tindak Lanjut Ke Depan

Dalam rangka mengetahui penyebab infeksi cacing pada burung kuntul yang menyebabkan kematian massal jenis burung tersebut, DLHK DIY berencana melakukan penyelidikan lebih lanjut. Beberapa lokasi yang diperkirakan sebagai habitat foraging (mencari makan) burung kuntul perlu diteliti untuk mengetahui ada atau tidaknya material yang berpotensi menyebabkan infeksi cacing tersebut. Dengan adanya tindak lanjut tersebut, diharapkan dapat dilakukan Tindakan-tindakan selanjutnya agar tidak terjadi lagi kematian massal burung kuntul kerbau di masa depan sehingga jenis burung ini dapat lestari.


(Seksi KSDA-DLHK DIY)