Artikel

POHON MENTAOK: Penghuni Alas Mentaok

Jun

18

POHON MENTAOK: Penghuni Alas Mentaok

POHON MENTAOK: Penghuni Alas Mentaok

Mentaok sebuah nama yang sangat dikenal oleh masyarakat Yogyakarta terutama kalangan kaum tua. Mentaok dikenal oleh masyarakat yogyakarta sebagai sebuah nama kawasan hutan yang sangat melegenda, dikenal dengan nama Alas Mentaok. Alas Mentaok ini diyakini sebagai lokasi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam Yogyakarta yang selanjutnya dikenal dengan Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat. Kawasan Hutan ini sangat dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Babat Alas Mentaok yang dilakukan oleh Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mrentani untuk membuka sebuah kawasan hutan yang bernama mentaok menjadi sebuah hunian yang diberi nama Mataram.

 

Nama mentaok ini sebenarnya adalah sebuah nama dari salah satu jenis pohon yang ditemukan di wilayah hutan mentaok tersebut. Jenis tanaman ini kini sudah mulai langka dan sulit untuk ditemukan. Beberapa lokasi yang masih dijumpai jenis tanaman mentaok ini adalah kawasan di pegunungan karst gunung sewu Kabupaten Gunung, seperti yang pernah penulis temukan di kawasan pemukiman penduduk di Dusun Kamal, Desa Wunung, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.



         Jenis tanaman ini dikenal oleh masyarakat dengan beberapa nama lokal antara lain: Bintaos (masyarakat Sunda, Jawa dan Madura), Mentaos (Jawa), Benteli lalaki (Sunda), Bentawas, Tawas (Bali) dan Dediteh (Timor). Secara Ilmiah, jenis tanaman ini mempunyai nama Wrigtia javanica A.DC, dengan susunan klasifikasi taksonomi sebagai berikut:

Kingdom: Plantae

Divisi: Tracheophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Gentianales

Familia: Apocinaceae

Genus: Wrigtia

Speciec: Wrigtia javanica A.DC.

 

Secara alami, jenis tanaman ini juga tersebar di beberapa Negara antara lain: kawasan selatan Cina, Kamboja, Vietnam, Thailand dan Malaysia. Jenis tanaman ini merupakan penghuni kawasan Hutan Musim termasuk Hutan Muson, semak belukar, hutan savana, dengan kondisi kering yang periodik maupun permanen. Dalam aspek ketinggian tempat, jenis tanaman ini tumbuh dengan baik sampai ketinggian lebih dari 1000 mdpl.



Mentaok merupakan tanaman berhabitus pohon, tanaman ini bisa mencapai ukuran tinggi 35 meter dengan diameter sebesar 50 Cm. Kulit batangnya berwarna abu-abu coklat hingga kuning kecoklatan, beralur agak dalam. Daun tunggal berbentuk bulat telur dengan ujung daun meruncing. Daun memiliki rambut halus pada bagian permukaan dan pada bagian bawah daun sedikit kasar. Bunga biseksual, berwarna putih kekuning-kuningan atau merah muda hingga merah tua, terdapat dalam bentuk malai pada ujung ranting. Buah berbentuk lonjong dengan kulit buah yang keras dan memiliki belahan pada bagian tengah. Buah berwarna kecoklatan, akan pecah ketika tua dan biji akan tersebar. Kayu mentaok mempunyai tekstur yang halus, kuat dan keras.


Kayu mentaok banyak dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan, pensil, instrumen musik, wayang, sarung keris atau wrongko, patung, perkakas rumah tangga, dan karya seni ukir. Getah yang didapat dari bagian kulit batang dapat dimanfaatkan sebagai obat penyakit disentri, sedangkan daun dapat dimanfaatkan sebagai obat anti radang mata. Pada jaman kejayaannya dulu, mentaok banyak dimanfaatkan untuk tiang pancang dermaga di sungai atau laut bagi para nelayan tradisional, konstruksi jembatan tradisional, ompak ukir pada bangunan joglo tradisional dan konstruksi bangunan yang berada di kondisi ekstrim, termasuk dalam hal ini benteng pertahanan yang sering dibangun pada pusat kerajaan di masa lampau.


Penulis: M. Taufik Joko Purwanto