Artikel

Seri Flora Identitas: Kepel Si Pohonnya Putri Raja

Apr

07

Seri Flora Identitas: Kepel Si Pohonnya Putri Raja

Seri Flora Identitas: Kepel Si Pohonnya Putri Raja

Kepel (Stelechocharpus burahol L.) adalah flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Kepala DIY No. 385/KPTS/1992 tentang Penetapan Flora dan Fauna Daerah Propinsi DIY. Flora ini juga dianggap sebagai salah satu jenis flora yang memiliki nilai filosofi bagi masyarakat di Yogyakarta. 


 

Gambar 1. Perangko bergambar pohon kepel yang diterbitkan PT. Pos Indonesia Tahun 1998



Gambar 2. Perangko bergambar pohon kepel dan burung perkutut sebagai flora fauna identitas DIY yang diterbitkan oleh PT. Pos Indonesia Tahun 2010



Klasifikasi Taksonomi

Kingdom          : Plantae

Filum               : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Ebenales

Famili              : Sapotaceae

Genus             : Stelechocarpus

Spesies           : Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson

 

Ciri-Ciri Morfologi

Kepel berhabitus pohon. Berakar tunggang dan tidak berbanir. Perawakan pohonnya berbentuk silindris dengan banyak cabang lateral yang tersusun secara sistematik. Percabangan monopodial. Pada cabangnya terdapat banyak tonjolan-tonjolan bekas tumbuh buah.

Pohon ini tidak menggugurkan daun secara serentak. Tinggi pohon dapat mencapai 25 m. Tajuknya teratur, berbentuk seperti kubah yang meruncing ke atas (mirip cemara). Percabangan mendatar atau agak mendatar. Diameter batangnya dapat mencapai hingga 40 cm. Warnanya coklat kelabu tua sampai hitam. 

Daunnya berbentuk elips, bulat telur, oblong, lanceolate hingga agak runcing atau bentuk lanset. Tepi daun rata. Ujung daun runcing. Ukuran daun kira-kira (12-27)cm X (5-9) cm, berwarna hijau gelap, tidak berbulu, merontal tipis. Tangkai daun mencapai 1,5 cm panjangnya.

Bunganya berkelamin tunggal. Awalnya bunga berwarna kehijauan kemudian lama-lama berubah menjadi keputih-putihan, lalu muncul tonjolan-tonjolan keputihan pada batang. Bunga jantannya terletak di batang sebelah atas dan juga di cabang-cabang yang lebih tua. Berkumpul 8-16 cm. Bunga betina hanya ada di pangkal batang.

Buahnya dengan 1-13 lembar daun buah bertipe mirip buah buni. Panjang tangkai buah mencapai 8 cm. Buah yang matang berbentuk hampir bulat, dengan diameter 5-6 cm. Perikarpnya berwarna coklat, berisi sari buah yang dapat dimakan.

Biji buah kepel berjumlah 4-6 pada setiap buahnya. Berbentuk ellipsoid. Panjang bijinya biasanya sekitar 3,25 cm.

 

Manfaat

Kepel dapat dimakan buahnya yang telah matang dalam keadaan segar. Di kalangan putri-putri kraton (Mataram), buah kepel digemari karena dianggap dapat berfungsi sebagai deodorant, pengharum napas, pengharum air seni, serta sebagai kontrasepsi jika dimakan.

Hal ini kemudian menjadi popular dan ditiru putri-putri kraton kerajaan-kerajaan kecil lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur di mana kemudian kerajaan-kerajaan tersebut menanam pohon kepel di halamannya masing-masing.

Sedangkan kayu kepel cocok untuk membuat perkakas rumah tangga dan juga sebagai bahan bangunan yang cukup awet.

Daun kepel konon dapat dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel konon dapat menurunkan kadar kolesterol.

 

Perlindungan dan Ancaman

Kepel belum termasuk sebagai spesies yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa. Juga belum dilindungi dalam Permen LHK No. 106 Tahun 2018. Spesies ini juga belum terdaftar dalam IUCN Redlist.

Ancaman terhadap kelestarian kepel yaitu pada saat ini masyarakat tidak banyak yang membudidayakan kepel karena tidak banyak juga yang mengkonsumsi buahnya. Hal ini mungkin disebabkan karena pada zaman dahulu, pohon kepel hanya ditanam dan dimanfaatkan secara terbatas hasilnya hanya di kraton Mataram (Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta).

 

Filosofi Kepel

Kepel berasal dari kata “kepel” yang berarti genggaman tangan manusia atau berarti “greget” dalam bekerja. Pohon kepel melambangkan “manunggaling sedya kaliyan gegayuhan” yang berarti bersatunya niat dengan kerja.

 

(Seksi KSDA – DLHK DIY)