Artikel

Teror Python di Gunungkidul

Apr

05

Teror Python di Gunungkidul

Teror Python di Gunungkidul

Warga Kalurahan Ngloro, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul digegerkan oleh temuan belasan ular python atau sanca kembang. Dilansir dari iNews.id (4/4-2021), sudah sekitar 13 ekor ular python ditangkap warga di beberapa pedukuhan dalam sepekan ini. Ular-ular tersebut masuk ke pemukiman dan mengincar ternak warga. Menurut warga, ular masuk ke pemukiman, diperkirakan karena kehabisan pakan di habitatnya alaminya.

Python dikenal dengan nama lokal sanca kembang atau sanca (Jawa), sawah-n-etem (Simeuleu), ular petola (Ambon), reticulated python atau retics (Inggris). Ular ini merupakan ular dari keluarga Pythonidae. Sanca kembang merupakan ular dengan ukuran tubuh terpanjang di dunia, dibandingkan jenis-jenis ular lain, termasuk Anaconda (Eunectes) yang merupakan ular terbesar dan terpanjang di Amerika Selatan. Ular sanca terpanjang yang pernah ditemukan dikonfirmasi sepanjang 6,95 m di Balikpapan, Kalimantan Tengah. Sedangkan yang paling berat yang pernah ditemukan berbobot sekitar 158 kg. Ular sanca kembang dapat berusia panjang hingga 25 tahun. 

 

Klasifikasi Taksonomi

 

Kingdom          : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Reptilia

Ordo                : Squamata

Sub-ordo         : Serpentes

Famili              : Pythonidae

Genus             : Malayopython

Spesies           : Malayopython reticulatus (Schneider, 1801)

 

Pada awalnya sanca kembang disebut dengan nama ilmiah Python reticulatus, namun saat ini disebut dengan Malayopython reticulatus.

 

Ciri-Ciri Morfologi

Sanca kembang memiliki pola lingkaran-lingkaran besar berbentuk jala (reticulate = jala) yang tersusun atas warna-warna hitam, kecoklatan, kuning dan putih di sepanjang sisi dorsal tubuhnya. Keluarga sanca atau Pythonidae dapat dibedakan dari ular-ular dari keluarga lain dengan sisik-sisik dorsal yang berjumlah lebih dari 45 deret. Pada sanca kembang sisik-sisik dorsal (punggung) berjumlah sekitar 70-80 deret, sisik ventral (perut) 297-332 buah dari bawah leher hingga ke anus, dan subkaudal (sisi bawah ekor) 75-102 pasang. Perisai rostral (sisik di ujung moncong) dan empat perisai supralabial (sisik-sisik di bibir atas) terdepan memiliki lekuk (celah) pendeteksi panas (heat sensor pits) (Tweedie, 1983).

Di Asia, musim kawin sanca kembang berlangsung dari September hingga Maret. Sanca kembang dapat bertelur 10-100 butir (rata-rata 24 butir) dalam sekali bertelur yang akan dierami induknya sampai menetas kira-kira selama 80-90 hari, bahkan kadang-kadang sampai lebih dari 100 hari. Suhu pengeraman sekitar 31-32°C. Setelah menetas, nasib anakan ular akan diserahkan kepada alam begitu saja. Ular sanca kembang hanya bertelur sekali dalam dua sampai empat tahun.


 Gambar 1. Ular sanca kembang (Malayopython reticulatus) oleh Heri Nunuk Nugroho dari Wikimedia Commons


Persebaran dan Habitat

Persebaran sanca kembang di hutan-hutan di Asia Tenggara, mulai dari Kepulauan Nikobar, Burma hingga ke Indochina, ke selatan melewati Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Sulawesi dan ke utara hingga Filiphina. 

Ular ini hidup di hutan-hutan hujan tropis yang lembab, hutan, padang rumput, semak belukar dan juga perkebunan. Keberadaannya bergantung pada ketersediaan air sehingga sering ditemui tidak jauh dari aliran-aliran air seperti sungai, kolam atau rawa.

Ular sanca kembang diketahui sebagai perenang ulung, bahkan di laut. Sehingga ular jenis ini dapat menghuni pulau-pulau kecil yang dapat dijangkaunya. Setelah letusan Krakatau dan Anak Krakatau muncul, sanca kembang diketahui menjadi salah satu satwa pionir yang menghuni habitat pulau baru tersebut. Sanca kembang juga sangat toleran terhadap perubahan habitat sehingga memang kadang-kadang mereka dapat ditemukan di kawasan pemukiman (manusia).

 

Mangsa

Makanan utamanya yaitu mamalia kecil, burung dan reptilia lain. Ular kecil biasa makan kadal, kodok dan ikan. Ular besar dilaporkan makan anjing, monyet, babi hutan, rusa dan juga manusia (yang tersesat ke tempatnya menunggu mangsa). Dari beberapa kasus ular sanca kembang yang masuk ke kawasan pemukiman warga, dilaporkan bahwa ular jenis ini memangsa ternak seperti ayam, kambing atau bahkan sapi.Ular ini sebenarnya secara alami tidak aktif berburu dan lebih suka menunggu mangsa yang lewat.

Sanca kembang tidak berbisa. Jenis ular ini melumpuhkan mangsanya dengan cara melilitkan tubuhnya pada mangsa kuat-kuat (constricting) hingga mangsanya mati kehabisan napas. Tulang-tulang mangsa juga dimungkinkan patah atau remuk karena lilitan tersebut, yang memudahkan sanca untuk menelannya bulat-bulat mulai dari kepala. Setelah memakan mangsa yang besar, ular ini akan berpuasa selama beberapa hari atau bahkan beberapa bulan sampai lapar lagi. 

 

Ancaman dan Perlindungan

Ancaman terhadap populasi sanca kembang yang terbesar berasal dari perburuan. Sanca diburu untuk diambil kulitnya untuk bahan baku pembuatan tas, sepatu, ikat pinggang dan sejenisnya. Diperkirakan lebih dari 500.000 potong kulit sanca kembang diperdagangkan setiap tahunnya. Sebagiannya berasal dari Indonesia. Diperkirakan, sepertiga dari jumlah yang tertangkap tersebut merupakan betina usia produktif (Sheine et.al., 1999).

Sanca kembang belum termasuk satwa dilindungi menurut PP No. 7 tahun 1999 ataupun Permen LHK No. 106 tahun 2018. CITES memasukkannya dalam Appendiks II. Dalam IUCN Redlist, satwa ini berstatus Least Concern atau Resiko Rendah, dengan kecenderungan populasi saat ini tidak diketahui. Tetapi populasi individu dewasa diperkirakan mengalami penurunan. Mengingat ancaman yang dihadapi populasi sanca kembang oleh perburuan dan perdagangan, maka diperlukan usaha yang lebih serius untuk mencegah kepunahannya di masa yang akan datang. 

Lantas bagaimana apabila terjadi kasus sanca atau satwa lain masuk ke kawasan pemukiman warga (konflik satwa)? Sesuai dengan Pasal 26 ayat (1) PP No. 7 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa, maka satwa tersebut harus ditangkap atau digiring dalam keadaan hidup untuk kembali ke habitatnya. Atau apabila tidak memungkinkan untuk dilepaskan kembali ke habitatnya, satwa dapat diserahkan kepada Lembaga Konservasi untuk dipelihara. Lembaga Konservasi dapat berupa Kebun Binatang atau Lembaga lain yang mendapat ijin dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Masyarakat juga dapat melaporkan konflik satwa kepada instansi yang berwenang melaksanakan Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar, misalnya kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam.

 

(Seksi KSDA – DLHK DIY)