Artikel

Eksplorasi Pohon Mentaok

Sep

13

Eksplorasi Pohon Mentaok

Eksplorasi Pohon Mentaok

            Jenis tanaman ini dikenal oleh masyarakat dengan beberapa nama lokal antara lain: Bintaos (masyarakat Sunda, Jawa dan Madura), Mentaos (Jawa), Benteli lalaki (Sunda), Bentawas, Tawas (Bali) dan Dediteh (Timor). Secara Ilmiah jenis tanaman ini mempunyai nama Wrightia javanica.


Proses Eksplorasi Tanaman

            Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, pohon mentaok mempunyai tingkat kekritisan populasi yang cukup tinggi sehingga tanaman dalam bentuk pohon jarang ditemukan. Berdasarkan identifikasi lapangan dan informasi dari berbagai pihak, terdapat satu pohon yang agak besar dengan ketinggian sekitar 15m dan diameter 25cm ditemukan di lahan milik masyarakat yang terletak di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Pohon ini terlihat masih dalam kondisi baik dan mempunyai kemampuan untuk berbuah, namun secara genetis biji yang dihasilkan mempunyai kemungkinan tingkat kerawanan yang tinggi. Hal tersebut dapat disebabkan oleh perkembangbiakkan silang dalam atau inbreeding sehingga menghasilkan buah yang steril. Populasi tanaman yang masih cukup banyak ditemukan adalah dalam bentuk anakan alami dari pertumbuhan sistem perakaran tanaman. Lokasi yang masih ditemukan anakan alami ini adalah di kawasan pegunungan karst di Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Fenomena ini mengindikasikan tanaman mentaok mempunyai kemampuan untuk diperbanyak dengan materi vegetatif stek akar.

              Dalam rangka pelestarian tanaman mentaok, Balai Tahura Bunder melakukan kegaitan ekplorasi tanaman. Eksplorasi tanaman mentaok dilakukan di dua wilayah yaitu: kawasan pegunungan kapur yang terletak di wilayah pantai Ngrenehan dan Toro Hudan Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul dan kawasan hutan milik warga di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Penetapan lokasi sasaran eksplorasi ini dilakukan dengan berdasarkan pada informasi masyarakat dan prediksi berdasarkan informasi ilmiah tentang persebaran alami tanaman mentaok.


Hasil Eksplorasi Tanaman

§Identifikasi tanaman

Di kawasan Pantai Ngrenehan dan Toro Hudan tidak ditemukan tanaman dalam bentuk pohon yang besar, tetapi hanya ditemukan anakan alami tanaman dalam bentuk trubusan yang tumbuh dari sistem perakaran yang tertinggal di dalam permukaan tanah, jumlah trubusan anakan alami ini ditemukan cukup banyak di lereng-lereng perbukitan kapur. Fenomena ini mengindikasikan bahwa kawasan ini pada waktu yang lampau banyak ditumbuhi pohon metaok, yang kemudian mengalami peristiwa eksploitasi tanaman untuk kepentingan pemanfaatan kayunya dan pembuatan lahan pertanian.

Di kawasan lahan milik di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, teridentifikasi satu pohon dengan ukuran tinggi 15m, diameter batang 25cm dan dua pohon dengan ukuran tinggi 7m, diameter batang 10 cm. Tanaman yang teridentifikasi ini ditemukan buah dalam kondisi yang baik, sehingga mempunyai potensi yang besar untuk diperbanyak secara generatif. Di tempat ini juga ditemukan biji mentaok yang sudah berjatuhan di permukaan tanah, biji ini masih dalam kondisi baik untuk disemaikan.

 

§Materi perbanyakan atau pengembangbiakkan

Di kawasan Pantai Ngrenehan dan Toro Hudan materi perbanyakan tanaman yang didapatkan adalah materi vegetatif yang berupa stek akar dan stump atau tunggul tanaman. Materi ini didapatkan dengan menggali dan memotong bagian akar yang terdapat terubusan atau tunas tanaman, bagian tanaman yang dipotong ini kemudian dipotong untuk dijadikan stump dan kemudian disemaikan di media persemaian. Secara kuantitatif berbanyakan tanaman melalui pembiakkan vegetatif bagian akar ini mempunyai tingkat persentase tumbuh yang cukup besar, yaitu sebesar 90%. Berdasarkan pengamatan di lapangan, pertumbuhan tunas dari sistem perakaran ini mempunyai kecenderungan tumbuh lurus.

Di kawasan lahan milik rakyat di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung materi perbanyakan tanaman yang didapatkan adalah biji tanaman. Biji tanaman mentaok ini terdapat dalam buah yang berbentuk gada dengan lapisan serat kapuk yang menyerupai kapuk randu. Biji tersimpan di dalamnya dengan salah satu ujungnya ditumbuhi kapuk-kapuk tersebut. Pada usia tua, buah akan pecah dalam alur sejajar memanjang, biji kemudian terlempar keluar dan diterbangkan oleh kapuk yang tumbuh di ujungnya. Biji diperoleh dengan mengunduh buahnya dan memunguti biji yang jatuh di permukaan tanah. Bijinya berwarna dan berbentuk seperti gabah (biji padi) dengan bentuk yang lebih panjang. Perbanyakan secara generatif ini mempunyai tingkat persentase tumbuh yang cukup besar.


semai stek akar mentaok


taburan biji mantaok


semai biji mentaok


-M. Taufik Joko Purwanto-