FGD Penyusunan Profil Keanekaragaman Hayati DIY 2026 Dorong Penguatan Data dan Kolaborasi Lintas Sektor

Yogyakarta, Senin (24/08/2026) Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Daerah Istimewa Yogyakarta bersama para pemangku kepentingan melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dan Konsultasi Publik dalam rangka penyusunan Dokumen Profil Keanekaragaman Hayati (Kehati) DIY Tahun 2026. Kegiatan yang merupakan bagian dari Proyek RBP REDD+ GCF Output 2 BPDLH–Relung Indonesia tersebut dilaksanakan di Ramashinta Room, The Jayakarta Yogyakarta Hotel & Spa. FGD ini menjadi forum koordinasi dan konsolidasi untuk menghimpun masukan serta memperkuat data keanekaragaman hayati di DIY.

 

Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai pihak yang memiliki peran dalam pengelolaan dan penyediaan informasi keanekaragaman hayati, mulai dari pemerintah daerah, kementerian/lembaga, perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi non-pemerintah, hingga pihak terkait lainnya. Agenda kegiatan meliputi pembukaan, sesi panel pemaparan Profil Keanekaragaman Hayati DIY, diskusi, serta evaluasi dokumen. Dalam sesi panel, materi yang dibahas mencakup kebijakan, arahan dan tahapan penyusunan profil kehati dari Kementerian Lingkungan Hidup, kebijakan pengelolaan kehati DIY dari BAPPERIDA DIY, pemaparan Profil Kehati DIY Tahun 2026 oleh tim tenaga ahli, serta evaluasi profil oleh Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM.

 

Kepala DLHK DIY, Kusno Wibowo, S.T., M.Si., menyampaikan bahwa meskipun wilayah daratan DIY relatif kecil dibandingkan daerah lain di Pulau Jawa, DIY memiliki karakteristik biogeofisik yang unik dan kaya. Bentang alam DIY mencakup ekosistem Gunung Merapi, Perbukitan Menoreh, kawasan bentang alam karst, hingga ekosistem pesisir. Beragam ekosistem tersebut menjadi ruang hidup berbagai spesies, termasuk spesies langka dan dilindungi, sekaligus berperan sebagai sistem penyangga kehidupan masyarakat, antara lain dalam menyediakan air dan udara bersih. Namun, tekanan terhadap ruang dan perubahan iklim global menjadi tantangan yang perlu diperhatikan dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati.

 

Penyusunan Profil Kehati DIY 2026 menjadi langkah penting untuk menyediakan data mengenai kondisi eksisting, potensi, dan tren keanekaragaman hayati di wilayah DIY. Dokumen ini diharapkan menjadi dokumen yang dinamis dan dapat digunakan sebagai panduan dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, diperlukan kerja sama lintas sektor, lintas administrasi, dan lintas disiplin ilmu, terutama karena data keanekaragaman hayati saat ini masih tersebar di berbagai instansi, organisasi non-pemerintah, serta perguruan tinggi. FGD menjadi salah satu ruang untuk mengonsolidasikan data tersebut sehingga dapat menghasilkan basis data yang lebih terintegrasi.


Dalam pemaparan Profil Kehati DIY 2026, tim tenaga ahli menyampaikan bahwa hasil inventarisasi telah mengidentifikasi sebanyak 2.931 spesies, yang terdiri atas 1.365 spesies flora, 1.379 spesies fauna, serta 187 spesies alga, lichen, dan fungi. Profil tersebut juga mengidentifikasi spesies endemik, langka, dan invasif, serta keanekaragaman genetik lokal seperti salak pondoh, pisang lokal, padi merah lokal, bawang merah, dan sapi potong. Kekayaan keanekaragaman hayati tersebut tersebar pada berbagai ekosistem, mulai dari ekosistem vulkanik, dataran tinggi dan rendah, karst, pantai, gumuk pasir, mangrove, hingga ekosistem perairan tawar dan laut.

 

Selain aspek ekologis, Profil Kehati DIY 2026 juga memasukkan aspek keistimewaan DIY yang tercermin melalui flora dan fauna identitas, budaya, tradisi, pengetahuan tradisional, agrobiodiversitas, serta pangan lokal. Keanekaragaman hayati juga memiliki keterkaitan dengan filosofi dan budaya Jawa, termasuk konsep sumbu imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak, hingga pantai selatan sebagai bagian dari ajaran untuk hidup selaras dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta. Dengan demikian, pengelolaan keanekaragaman hayati tidak hanya berkaitan dengan aspek ekologis, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan nilai budaya dan keistimewaan DIY.

 

FGD juga membahas berbagai tekanan terhadap keanekaragaman hayati di DIY, antara lain perubahan fungsi lahan, eksploitasi sumber daya alam, perubahan iklim, polusi, serta spesies asing invasif. Berdasarkan analisis spasial tahun 2019–2023, proporsi lahan terbangun untuk permukiman dan infrastruktur meningkat dari 24,9 persen menjadi 36 persen, sementara ekosistem sawah menurun dari 26 persen menjadi 22,1 persen dan perkebunan dari 30,3 persen menjadi 22,7 persen. Pada periode yang sama, kondisi ekologi ekosistem vulkanik dan dataran tinggi juga mengalami penurunan, sedangkan ekosistem dataran rendah menghadapi tekanan yang sangat tinggi.

 

Sebagai tindak lanjut, dokumen Profil Keanekaragaman Hayati DIY 2026 akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Induk Pengelolaan (RIP) Keanekaragaman Hayati serta diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan dan tata ruang. Profil tersebut juga diharapkan menjadi baseline bagi penyusunan profil kehati di tingkat kabupaten/kota. Selain itu, diperlukan monitoring dan evaluasi pengelolaan keanekaragaman hayati serta pembentukan taman keanekaragaman hayati sesuai amanat kebijakan yang berlaku. Melalui kolaborasi dan penguatan basis data, penyusunan profil ini diharapkan dapat memberikan gambaran keanekaragaman hayati DIY secara lebih representatif sekaligus mendukung pengelolaan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.

 

Sumber: Relung Indonesia & DLHK DIY