Berawal dari Masjid, Ananto Isworo Raih Penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan

Jakarta, Kamis (11/06/2026) Gerakan sederhana yang berawal dari Masjid Al-Muharram di Brajan sejak 2013 kini berkembang menjadi inspirasi gerakan pelestarian lingkungan. Melalui inisiatif Shadaqah Sampah berbasis Eco-Masjid, Ananto Isworo berhasil menunjukkan bahwa tempat ibadah dapat menjadi pusat edukasi sekaligus penggerak aksi nyata dalam menjaga kelestarian bumi.

 

Dedikasi dan konsistensinya dalam mengembangkan gerakan peduli lingkungan tersebut mengantarkan Ananto Isworo meraih Penghargaan Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi dan inovasinya dalam mendorong upaya pelestarian lingkungan hidup di Indonesia.

 

Shadaqah Sampah merupakan inisiatif yang mengajak masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Gerakan yang bermula dari lingkungan masjid tersebut kemudian meluas ke lingkungan pendidikan dan masyarakat, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam pengelolaan sampah, tetapi juga dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam.

 

Seiring perkembangannya, upaya pelestarian lingkungan yang digagas Ananto Isworo turut mencakup berbagai aspek, mulai dari penghijauan, pengelolaan air, hingga pemanfaatan energi terbarukan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa gerakan lingkungan dapat dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk institusi keagamaan dan lembaga pendidikan.

 

Penghargaan Kalpataru yang diraih menjadi pengakuan atas perjalanan panjang dan komitmen dalam menggerakkan perubahan dari tingkat lokal. Inisiatif tersebut sekaligus menegaskan bahwa upaya menjaga kelestarian lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar, melainkan dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak orang.

 

Kisah Ananto Isworo menjadi inspirasi bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat berperan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan gerakan pelestarian lingkungan. Melalui kolaborasi, edukasi, dan aksi nyata, kepedulian terhadap bumi dapat ditanamkan serta diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Capaian ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak pihak untuk mengambil bagian dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sebab, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, dan keberlanjutan bumi membutuhkan tindakan nyata dari seluruh lapisan masyarakat.