Sosialisasi Pengelolaan DAS Terpadu melalui Pengembangan Bambu

Sleman, Selasa (04/08/2026) Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara terpadu membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah bambu.

 

Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu melalui Pengembangan Bambu yang dilaksanakan pada Selasa tanggal 4 Agustus 2026 dengan melibatkan Asosiasi Bambu Sleman. Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman dan kolaborasi dalam mengembangkan bambu sebagai bagian dari upaya konservasi DAS sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Bapak Yan Kurnia Kustanto, S.E., Anggota Komisi B DPRD DIY, Ketua FKPDAS DIY Bapak Dr. Masrur Alatas, S.T.,M.Eng, serta Bapak Bernadinus Widhiartadi, S.P Kepala Seksi Sumber Benih dan Sumber Daya Genetik  BPTH Wilayah III. Para narasumber menyampaikan materi terkait pengembangan bambu dari berbagai perspektif, mulai dari kebijakan, konservasi DAS, hingga aspek teknis budidaya.

 

Dalam pemaparannya, peserta mendapatkan materi mengenai strategi budidaya bambu untuk konservasi DAS, termasuk pentingnya pemilihan jenis, pengelolaan dan pemeliharaan tanaman, serta penempatan bambu pada lokasi yang sesuai dengan karakteristik lahan. Bambu memiliki potensi untuk mendukung upaya konservasi tanah dan air sekaligus menjadi tanaman yang dapat dikembangkan secara produktif oleh masyarakat.

 

Selain strategi budidaya, diskusi juga membahas tantangan dan peluang pengembangan bambu. Pengembangan bambu membutuhkan penguatan dari sisi budidaya, ketersediaan bibit berkualitas, peningkatan kapasitas masyarakat, pengelolaan pascapanen, hingga pengembangan pasar dan produk turunannya. Dengan pendekatan yang terpadu, bambu tidak hanya dipandang sebagai tanaman konservasi, tetapi juga sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi.

 

Keterlibatan Asosiasi Bambu Sleman menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara masyarakat, pemerintah, legislatif, dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi diperlukan agar pengembangan bambu dapat dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari hulu hingga hilir, dengan tetap memperhatikan fungsi ekologis DAS.

 

Melalui kegiatan ini, diharapkan pengembangan bambu dapat menjadi salah satu alternatif dalam memperkuat konservasi DAS sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Pengelolaan bambu yang dilakukan secara lestari dapat memberikan manfaat berlapis: menjaga lingkungan, meningkatkan produktivitas lahan, serta mendukung sumber penghidupan masyarakat.

 

Bambu lestari, DAS berkelanjutan, masyarakat sejahtera. Semangat tersebut menjadi pijakan untuk mendorong pengelolaan DAS yang semakin terpadu, kolaboratif, dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan maupun masyarakat.

 

Sumber: Bidang Rehabilitasi, Konservasi Alam dan Perlindungan Hutan, DLHK DIY